Blog Rujak : Kumpulan Makalah Online Lengkap

Blog Rujak : Kumpulan Makalah Online Lengkap

Kumpulan Makalah, Artikel dan Tips Lengkap

Showing posts with label Sejarah Kebudayaan Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Kebudayaan Islam. Show all posts

TOKOH ILMUWAN MUSLIM DAN PERANNYA DALAM KEMAJUAN DAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH



ULAMA-ULAMA TERMASYHUR PADA MASA
DINASTI AL AYYUBIYAH DAN HASIL KARYANYA

Pada masa  Shalahuddin berkuasa, ia mendorong para ilmuwan untuk berlomba memajukan ilmu pengetahuan, membuat bendungan, menggali terusan, mendirikan masjid dan sekolah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti al Ayyubiyah ditandai dengan datangnya para pelajar dari pelosok dunia Islam untuk belajar di Al azhar dan datangnya ulama-ulama masyhur untuk mengajar di Al Azhar dan terciptanyanya karya-karya besar mereka.
           Setelah menumbangkan Dinasti Fatimiyah, Shalahuddin mengubah orientasi keagamaan dari Syi`ah kepada Sunni. Ia juga mendirikan lembaga-lembaga ilmiah baru, terutama di masjid yang dilengkapi dengan tempat belajar teologi dan  hukum. Karya-karya ilmiah yang muncul pada masanya dan sesudahnya adalah kamus-kamus geografi, kompendium sejarah, manual hukum dan komentar-komentar teologi. Bahkan ilmu kedokteran diajarkan di rumah-rumah.Ia mendirikan Universitas Ayyubiyah di Damaskus yang menjadi tempat belajar yang terkenal.
Baiklah,sekarang saatnya kalian pelajari para ulama dan ilmuwan muslim pada masa Dinasti Ayyubiyah. Simak baik-baik ya! Siapa tahu kalian menjadi seperti mereka. Amin.
Ilmuwan Muslim yang muncul pada masa Dinasti Ayyubiyah diantaranya :
a.        Abdul Latif

ShahAbdulLatif.jpg



Folded Corner: Biografi

Tempat, tanggal lahir : Baghdad,1162 M
Wafat : Baghdad,1231 M
Profesi/Keahlian  : Ahli  Anatomi
 








Hasil Karya Abdul Latif yang terkenal di Eropa adalah Account of Egypt Karya tersebut masih berupa manuskrip (tulisan tangan) diketemukan oleh Edward Pococke seorang orientalis, di perpustakaan Boldeian. Di dalamnya memuat deskripsi mengenai bencana kelaparan yang disebabkan Sungai Nil ketika sedang dilanda kering kerontang. Ini terjadi pada tahun 1200-1202 M.
Dari sejumlah karya tulisannya, sebagian besar mengenai ilmu kedokteran. Selama hidupnya, ia telah menulis karya-karya yang berjumlah tak kurang dari 116 buah. Bahkan, ia merupakan ahli anatomi pertama yang memberi deskripsi lengkap dan akurat tentang tengkorak kepala manusia dan tulang muka, termasuk tulang rahang bawah. Subhanallah!
Tunggu dulu! Ia juga mengembangkan studi tentang petualangan pada umumnya. Teori Galenus misalnya, mengenai tulang bawah dan tulang yang menghubungkan tulang punggung dan tulang kaki, berhasil ia sempurnakan selama berada di Mesir. Hebat kan?



Rounded Rectangle: Ketahuilah !!
 Dari sejarah hidupnya yang terekam  dapat diketahui bahwa ia melakukan perjalanan panjang mengunjungi Mosul, Damaskus dan Mesir. Kemudian menuju Yerusalem tempat ia ikut bergabung dengan sejumlah penggumul ilmu dalam sebuah kelompok lingkaran studi.Selama beberapa tahun ia mengajar filsafat dan ilmu  kedokteran  di Kairo dan Damaskus. Setelah itu ke Aleppo dan mengajar disana selama beberapa tahun.
 














b.        Bin al-Baytar ( 1246 M )






150px-Ibn_al-Baytar.jpg


Rounded Rectangle: Biografi
Tempat, tanggal lahir : Malaga, abad ke-6 H. /12 M
Wafat : Damaskus, 646 H./1248 M
 Profesi/Keahlian : Dokter Hewan, Ahli Botani, Farmakologi, Sarjana Ilmu Tumbuh-tumbuhan
 


















                                                                                   


Hasil Karya Tulisnya antara lain :
1)        “Al-Mughni fil al-adwiya” al-Mufrodat (bahasan mandiri tentang ramuan-ramuan sederhana), yang menjelaskan beberapa contoh ramuan obat yang tepat untuk semua penyakit.
2)        “Al-jami’ li Mufrodat al-Adwiya’ wa al-Aghdhiya” (kumpulan obat-obatan  mudah). Buku ini memuat tidak  kurang dari 1400 contoh-contoh obat, dimana 300 macam  diantaranya adalah penemuannya sendiri.  Secara umum ramuan tersebut berasal dari binatang-binatang, tumbuh-tumbuhan dan mineral-mineral.
3)        Buku ini memuat 20 bab, termasuk menguraikan ramuan untuk sakit kepala, sakit telinga, sakit mata, untuk kosmetika, ramuan untuk demam, penangkal racun dan obat obatan yang sederhana.
4)        ”Mizan at-Tabib”
5)        “Risalah fi al-Aghdhiya’ wa al-Adwiya’”
6)        “Makalah fi al-Limun”
7)        ”Sebuah buku yang memuat komentar terhadap Dioscorides.
8)        Rounded Rectangle: Ketahuilah !
Baytar pertama kali menuntut ilmu di Sevilla, Spanyol. Disini ia mengumpulkan berbagai jenis tanaman yang tumbuh sekitar kota tersebut bersama dengan beberapa orang gurunya, Abu al-Abbas an-Nabati, Abdullah bin Shaleh dan Abu al-Hajjaj. Sekitar tahun 617 H./1220 M, ia pindah ke daerah Timur. Dan setelah melintasi daerah Afrika Utara (Maroko Algeria, Tunisia), ia pun menuju ke Asia Kecil dan Suriah.
”Al-Adwiyat al-Basyithah”(ramuan-ramuan sederhana), dicetak dalam bahasa  latin dengan judul “Simplicia”.


Text Box: Ketahuilah !
Pada mulanya ia belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru pada waktu itu,    terutama Ibnu al-Baytar, yang memberinya pelajaran botani. Sedangkan  kedokteran dipelajarinya bersama  dan sekaligus dibawah bimbingan ayahnya sendiri(seorang dokter mata) dan ar-Rahbi.
Ilmu yang ia peroleh kemudian dipraktekkan di Rumah Sakit Nuri di Damaskus dan di Rumah Sakit Nasiri di Kairo. Kemudian ia bekerja pada dinas perintahan Izzudi Aybak al-Mu’azzami di Sarkhad,Damaskus.(M.Natsir Arsyad,1995;245-246)
 






c.         Ibnu Abi Ushaybi’ah

DSCN1111.jpg


Biografi
Tempat, tanggal lahir     :  Damaskus, 590 H./1194 M 
Wafat                            :  Damakus, 668 H./270 M
Profesi/Keahlian            :  Ahli Kedokteran Muslim Arab, Bibliografer, Ahli Sejarah, Kedokteran
 
 




Hasil karyanya antara lain:




            Hasil  karyanya antara lain :
1)        “Uyun al-Anba’ fi Tabakat al-Atibba”. Merupakan kumpulan dari tidak  kurang 380 biografi ahli ilmu kedokteran yang tak terkira nilainya bagi sejarah sains Arab.
2)        “Isabat al-Munajjimin”
3)        “At-Tajarib wa al-Fawaid”
4)        “Hikayat al-Atiba’ fi Ilajat al-Adwa”
5)        “Ma’alim al-Umam”

d.        Daud al-Intaki


Biografi
Tempat, tanggal lahir     :  Antioch, Syiria
Wafat                            :  Mekkah,1599 M
Profesi/Keahlian            :  Ahli kedokteran
 
 







Hasil Karyanya adalah:
1)        Tadhkirat Ulil al-Bab wal-Jami`lil ajab al-Ujab, yang merupakan buku   pegangan kedokteran lengkap dengan kupasan yang mendalam.
2)        Memoria, yang berisikan ramuan obat-obatan yang digunakan di berbagai apotek di Eropa.
3)        Risalah fil Ta`ir wal-Ukab, yang berisikan kecaman pedas terhadap para filosof.
4)        Unmudhaj fi`ilm al-Falak, berisikan penggunaan astrologi dalam kedokteran.

e.         Abu Barakat al Baladi



Biografi
Tempat, tanggal lahir     :  Balad, 470 H / 1077  M      
Wafat                            :  560 H./ 1165 M.
Profesi/Keahlian            :  Dokter dan Filosof
 
 





Hasil Karyanya adalah:
1)        Kitab al-Mu`tabar, membahas tentang logika.
2)        Naturalia, berisikan psikologi dan metafisika.
3)        Risalah fi-Sabab Zuhur al-Kawakib Laylan wa-Khafa`iha Naharan.

f.          Muhammad al-Damiri


Rounded Rectangle: Biografi
Wafat : Kairo, 1405 M
Profesi/Keahlian : Zoologi (Ahli Ilmu Hewan)
 





Hasil karya tulisnya adalah “Hayat al-Hayawan” (The Life Animals), yang berisikan tentang ilmu hewan Islam. Buku ini lama sekali dipakai oleh sekolah-sekolah di berbagai negeri di Timur.

g.        Kahin al-Attar
Seorang farmakologi dengan hasil karya “Management of The Drugstore” (Mengatur Resep Apotek).Buku tersebut disusun pada tahun 1400 M dan terkenal di Eropa.

Perkembangan ilmu Agama Islam  pada masa Dinasti al Ayyubiyah ditandai dengan datangnya para pelajar dari pelosok dunia Islam untuk belajar di Al azhar dan datangnya ulama-ulama masyhur untuk mengajar di Al Azhar. Beberapa ulama tersebut diantaranya :
1.      Abdul latif Al Baghdadi, ahli ilmu mantiq dan Bayan.
2.            Syekh Abu Qosim Al Manfakuti, ahli Fiqh.
3.      Umar bin Al farid, seorang Sufi terkenal.
4.      Syamsudin khallikan, ahli Sejarah.
5.      Abu Abdulloh Al Qudhai, ahli Fiqh, Hadist dan Sejarah.
Hasil karya tulisnya adalah:
a.       Asy Syihab ( tentang bintang ).
b.      Sanadus Sihah ( tentang Perawi Hadist-hadist Shohih ).
c.       Manaqib Al Imami Asy Syafii ( tentang Budi Pekerti Imam Syafii ).
d.      Anba’ Al Anbia ( tentang  cerita para Nabi ).
e.       Uyun Al Ma’arif ( Mata air ilmu pengetahuan ).
f.     Al Mukhtar fi Zkir Al Khutat wa al Asar ( Buku tentang Sejarah Mesir )
6.      Al Hufi, ahli Bahasa.
7.      Abu Abdulloh Muhammad bin Barakat, ahli nahwu.
8.      Hasan bin Khatir Al Farisi, ahli Fiqh Mazhab Hanafi dan ahli ilmu Tafsir.

Sudah biasakah kalian menerapkan perilaku seperti tokoh ilmuwan pada masa Dinasti al-Ayyubiyah

       Ternyata ilmuwan muslim mempunyai peranan yang besar dan berarti terhadap peradaban manusia sejak dulu kan, bahkan pengaruh mereka tidak hanya dirasakan oleh umat Islam saja lho, tapi juga sampai ke masyarakat di belahan benua Eropa. Hebat kan?
Jadi, keteladanan apa yang mesti kalian ambil dari fakta tersebut? Tepat sekali. Belajar tekun dan bersungguh-sungguh demi masa depan yang lebih baik, ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.
       Pada dasarnya dari uraian diatas dapat ambil pelajaran sebagi cermin kita hidup sehari-hari seperti ketika kita diberi tugas oleh guru, maka harus mengerjakan walaupun dalam hasilnya tidak memuaskan. Kita ikut serta membuat dan berpartisipasi dalam mengisi majalah dinding.


Kisah :
Katsir bin Qais r.a. berkata bahwa suatu ketika, ia sedang duduk dalam majlis Abu Darda’ r.a. di Damsyik. Kemudian, seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, ”saya datang dari Madinah Munawarah semata-mata untuk mendengarkan sebuah hadits darimu. Saya mendengar bahwa engkau telah mendengar hadits tersebut dari Rasulullah SAW. ”Abu Darda’ berkata, ”apakah ada urusan lain selain itu, sehingga engkau datang ke sini? ”Ia menjawab, ”Tidak, tidak ada. Saya datang hanya untuk mengetahui sebuah hadits darimu.”
            (Dikutip dari Kitab Fadhoil Amal, karya maulana Muhammad zakariya al kandalvi hal.  )


RANGKUMAN
1. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban pada masa Dinasti Ayyubiyah dimulai dari adanya perhatian yang besar  Shalahuddin Al Ayyubi terhadap ilmu pengetahuan.
2. Ilmuwan yang lahir pada masa Dinasti Ayyubiyah antara lain : Abdul Latif (ahli anatomi), Bin Al Baitar (ahli obat-obatan dan tumbuhan), Ibnu Abi Ushaybi’ah (ahli sejarah), Daud Al-Intaki (ahli kedokteran), Abu Barakat Al Baladi (filosof  dan dokter), Muhammad al Damiri (ahli zoologi), Kahin al Attar (ahli obat).
3. Ulama yang lahir pada masa Dinasti Ayyubiyah antara lain : Abdul latif Al Baghdadi (ahli ilmu mantiq dan Bayan), Syekh Abu Qosim Al Manfakuti (ahli Fiqh), Umar bin Al farid (seorang Sufi), Abu Abdulloh Al Qudhai (ahli Fiqh, Hadist dan Sejarah), Al Hufi (ahli Bahasa), Syamsudin khallikan (ahli Sejarah), Abu Abdulloh Muhammad bin Barakat (ahli nahwu), Hasan bin Khatir Al Farisi (ahli Fiqh Mazhab Hanafi dan ahli ilmu Tafsir)

PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI AL-AYYUBIYAH



A.   Kemajuan di pelbagai bidang pada masa Dinasti Ayyubiyah
     Ketika Dinasti Al Ayyubiyah berdiri kebudayaan dan peradaban Islam telah mengalami kemajuan di berbagai bidang. Adapun kemajuan-kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Al Ayyubiyah adalah sebagai berikut :
 1.   Kemajuan di bidang Pendidikan
              Meskipun Salahuddin terlibat aktif dalam Perang Salib, bukan berarti ia dan penerusnya mengabaikan bidang pendidikan. Mereka masih sempat memikirkan dan memajukan pendidikan di negerinya. Salahuddin tidak hanya dikenal sebagai pahlawan dalam peperangan tetapi juga dikenal sebagai pelindung  para sarjana dan ilmuwan serta penyokong kajian ilmu kalam. Untuk mengganti paham Syiah dengan paham Suni, Salahuddin melakukannya melalui pendidikan.
              Pada masa Salahuddin, Syria menjadi kota pendidikan yang besar. Ibnu Jubair yang mengunjungi Damascus pada tahun 1184 M, mendapati  sekitar 20 Madrasah dan 2 rumah sakit bebas beaya di kota ini. Kemudian Salahuddin memperkenalkan sekolah model Madrasah ini ke Mesir, Yerussalem dan Hejaz.  Salah satu Akademi terkemuka pada masa itu adalah Akademi Ash Shalahiyah di Kairo. Pada masa Khalifah  Al Adil, juga dibangun madrasah dengan nama  Al Adliyah  di Damascus. Al Azhar yang semula mengajarkan paham Syiah kemudian dijadikan tempat pengajaran paham Suni.
 2.   Kemajuan  di bidang  Kesehatan.
                             Disamping mendirikan Madrasah, Salahuddin  juga mendirikan 2 buah rumah sakit di Kairo. Bangunan rumah sakit itu dirancang mengikuti model Rumah sakit Nuriyah di Damascus. Sebelumnya, Ibnu Thulun dan Khalifah Kafur dari masa pemerintahan Iksidiyah telah mendirikan lembaga yang sama yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang memungut beaya.
3.   Kemajuan di bidang Arsitektur.                      
                              Salah satu peninggalan yang menunjukkan kemajuan Arsitektur pada masa Dinasti Al Ayyubiyah adalah Benteng Kairo yang dibangun pada tahun 1183 oleh salahuddin Al Ayyubi. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu-batu alam yang berbentuk balok, serupa dengan batu balok yang dipakai bangunan Piramida. Konstruksi benteng ini  mirip dengan pertahanan benteng-benteng Normandia yang terdapat di Palestina.
4.   Kemajuan di bidang  pertanian, perdagangan dan pengetahuan.
                            Kemajuan di bidang ini dapat kita lihat pada masa Al Kamil, sumbangan yang diberikan untuk dunia Islam pada masanya adalah adanya irigasi dan majunya pertanian. Di samping itu, juga sudah ada penandatanganan perjanjian  dagang dengan negara-negara Eropa.
                     Khalifah Al Kamil juga memiliki hasrat yang besar untuk mempelajari Kristen, sehingga Gereja  Koptik masih mengakuinya sebagai  raja yang paling murah hati. Ketertarikannya pada pelbagai ilmu pengetahuan dapat tergambar  dari panggilannya kepada seorang penyair sufi terbesar saat itu, yaitu Umar bin Al farid.
   
B.  Al Azhar : Pusat  Pengembangan  Ilmu Pengetahuan dan Ilmu-ilmu Ke-Islaman

Al-Azhar

   Kompleks Al-Azhar, pada mulanya masjid yang didirikan tahun 970 pada awal Dinasti   Fatimiah oleh  Jauhar as-Siqilli

      Kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban yang dicapai pada masa Dinasti Al Ayyubiyah tidak terlepas dari sebuah lembaga yang bernama Al Azhar. Dari lembaga inilah lahir ulama-ulama dan ilmuwan-ilmuwan dengan berbagai hasil karyanya yang berguna bagi kehidupan umat manusia
       Al Azhar sekarang ini adalah nama sebuah lembaga pendidikan  dan keagamaan di Cairo, Mesir yang sangat termasyhur di dunia Islam, mencakup sebuah masjid sebagai pusat kegiatan Islam dan sebuah lembaga pendidikan pengemban misi dakwah. Saat ini mahasaiswa yang studi di Al Azhar tidak hanya dari Mesir saja, tetapi juga mahasiswa asing yang berasal dari Pakistan, India, Sudan, Indonesia dan negara lainnya. Saat ini diperkirakan jumlah mahasiswanya mencapai 50.000 orang.
       Pada mulanya, Al Azhar adalah sebuah masjid di kota Cairo ( Mesir ) yang dibangun oleh Jauhar Ash Shiqili ( panglima perang Islam Dinasti Fathimiyah ) pada tahun 972 M . Jauhar yang menaklukkan Mesir pada tahun 971 M itu diperintah  membangun masjid tersebut oleh Khalifah AL Muiz Li Dinillah dari Dinasti Fathimiyah. Semula masjid itu dinamakan  Jami’ Al Qahira sesuai nama kota tempat masjid ini dibangun, Al qahiro atau Cairo. Kemudian masjid ini dinamai Al Azhar karena dikaitkan dengan  Az Zahra yang berasal dari nama / julukan Fatimah  Binti Muhammad SAW.
          Selain sebagai pusat dakwah ajaran Syiah, di Al Azhar juga diajarkan berbagai macam ilmu, seperti yang terkait dengan bahasa yaitu ilmu Nahwu ( tata bahasa Arab ),  Balaghoh, Mantik (logika) dan Sastra. Selain itu juga diajarkan ilmu-ilmu agama, seperti ilmu Tauhid, Fiqh, Hadist, Tasawuf.
          Akan tetapi pada tahun 378 H / 988 M ketika Khalifah Al Aziz berkuasa, masjid Al Azhar dikembangkan  fungsinya menjadi Universitas. Dengan pengembangan tersebut, maka ilmu-ilmu yang dikembang di dalamnya  semakin banyak. Ilmu ilmu itu sebagaian menjadi nama Fakultas seperti : Syariah, Ushuluddin dan Bahasa. Demikian juga diajarkan ilmu-ilmu lain, seperti : Kedokteran, Matematika, Filsafat, Sejarah dan bahkan Pertanian.
          Pada masa Dinasti Ayyubiyah berkuasa atas Mesir, Masjid Al Azhar sempat tidak dipakai untuk sholat Jum’at hampir satu abad lamanya ( 1171 – 1267 ). Alasannya adalah tidak diperkenankannya dua sholat jum’at  dalam satu kota menurut mazhab Syafi’iyah. Selama itu sholat jum’at dilaksanakan di Masjid Al Hakim.  Ketika Salahuddin berkuasa di Mesir, dakwah ajaran Syiah dilarang  dilakukan di Masjid Al Azhar, sebaliknya yang diperbolehkan adalah dakwah ajaran Suni, karena Salahuddin bermazhab Suni. Kemudian Masjid Al Azhar dipakai kembali untuk sholat jum’at pada masa pemerintahan Sultan Baybar dari Dinasti Mamluk berkuasa.
          Pada masa Dinasti Ayyubiyah, Al Azhar tidak banyak berperan. Alasannya cukup kuat, yaitu Dinasti Fathimiyah mempropagandakan Mazhab Syiah, dimana Al Azhar sebagai media utamanya, sedangkan Salahuddin Al Ayyubi dan seluruh penguasa Dinasti Ayyubiyah bermazhab Suni. Tetapi pengembangan studi di Al Azhar masih tetap berjalan, walaupun lebih banyak bergantung  pada usaha pribadi
          Sebagai lembaga keagamaan Al Azhar memiliki fungsi dan peran sebagai berikut :
1.      Sebagai pusat kegiatan Al Muhtasib, yaitu  jabatan agama yang penting pada waktu Dinasti Fathimiyah.
2.      Sebagai tempat penyelengaraan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tiap tangal 12 Robiul awal dan peringatan  Hari Asuro tiap tangal 10 Muharam.
3.      Sebagai tempat sidang khalifah, sidang peradilan dan pertemuan para Qodli (hakim) pada hari-hari tertentu untuk membahas suatu masalah.
4.      Sebagai tempat mencetak ilmuwan  dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan yang sanggup aktif dalam dakwah Islam.
5.      Sebagai tempat mencetak para ulama yang beriman  dan mempunyai  keteguhan mental dan mempunyai ilmu yang mendalam tentang aqidah, syari’at dan bahasa Al qur’an untuk disuplai ke seluruh dunia Islam.
Perkembangan al-Azhar ditandai dengan berbagai kemajuan dari masing-masing periode. Perkembangan setelah Dinasti al-Ayyubiyah dilanjutkan oleh Dinasti Mameluk. Pada masa ini memerintahkan kepada ulama supaya membukukan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Buku-buku tersebut ditulis dalam bentuk ensiklopedi dengan maksud diperuntukkan mahasiswa yang ingin memperdalam pengetahuan.
Sebelum tahun 1872, ijazah yang diberikan pada peserta didik tidak melalui ujian, tetapi berdasarkan keputusan pribadi masing-masing guru. Perkembangan selanjutnya pada masa kepemimpinan Syekh Muhammad Abbasi al-Mahdi al-Hanafi, rektor al-Azhar ke-21 mulai ada pembaharuan yaitu ada ujian untuk mendapatkan ijazah dengan diuji dalam bidang usul, fiqih, tauhid, hadits, tafsir, nahwu, sharaf, ma’ani, bayan, badi’ dan mantic. Pada bulan Maret 1885 keluar peraturan tentang tenaga pengajar di al-Azhar yaitu syarat sebagai tenaga pengajar telah menyelesaikan buku-buku induk tersebut diatas.
Pada abad 20 ini al-Azhar mulai memperhatikan hasil-hasil yang telah dicapai dalam bidang keislaman dan kearaban. Usaha-usaha untuk mengikuti perkembangan zaman adalah dengan mengirimkan alumni yang dipandang mampu untuk belajar di Eropa dan Amerika.
      Sudah biasakah kalian berprilaku seperti para tokoh Dinasti Ayyubiyah.
Dari penjelasan di atas maka dapat diambil pelajaran bagi kita semua dalam kehidupan kita sehari-hari  seperti pada saat ketika di madrasah ada lomba antar kelas, maka kita harus ikut serta dalam lomba tersebut. Adapun segala sesuatu yang berkitan hal-hal yang mendukung perlu kita adanya dukungan dari semua pihak, tanpa membedakan jabatan.
Ketahuilah !!
Universitas Al Azhar saat ini merupakan salah satu pusat study para mahasiswa yang ingin memperdalam ilmu agama Islam, banyak mahasiswa dari Indonesia yang dikirim ke sana untuk melanjutkan study dengan bea siswa dari pemerintah. Apakah  kamu tertarik untuk belajar di sana ?

RANGKUMAN
1.        Kemajuan yang dicapai oleh Dinasti Al Ayyubiyah meliputi bidang kesehatan yang ditandai dengan berdirinya sebuah Akademi yang bernama Akademi Ash Shalahiyah, bidang kesehatan yang ditandai dengan berdirinya rumah sakit, bidang arsitektur yang ditandai dengan benteng Cairo, bidang pertanian dan perdagangan yang ditandai dengan adanya perjanjian dagang dengan Negara-negara Eropa.
2.        Tercapainya kemajuan pada masa Dinasti Al Ayyubiyah dilatar belakangi dengan adanya perguruan tinggi Al Azhar yang dibangun oleh panglima perang Islam Jauhar As Saqali pada masa Dinasti Fatimiyah pada tahun 972 M. Nama Al Azhar dinisbahkan pada kata Az Zahra (sebutan putri Rosululloh yang bernama Fatimah)

Copyright © Blog Rujak : Kumpulan Makalah Online Lengkap. All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design